Posts mit dem Label lidah jawa werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label lidah jawa werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Montag, 12. Oktober 2015

Nasi Tumpeng






Tanggal sembilan kemarin hari ulang tahun yang ketiga anakku satu-satunya, sampai hari ini 13.10. belum sempat dirayakan karena pas hari lahirnya itu dia masih demam, terjangkit virus!.
Selama 5 hari sejak hari minggu sampai jumat, panasnya naik turun, terutama kalau malam hari! Akhirnya tubuhnya setelah seminggu bisa menetralisir serangan virus tersebut tanpa perlu ke dokter. Sehari sebelum sembuh istriku menelpon dokter untuk konsultasi, dan diberi tahu obat homeopathie yang bisa membantu. Sekarang kondisinya membaik, namun masih ada beberapa batuk keluar dari mulutnya.
Sampai sekarang agar nggak kecewa, kami belum juga mengucapkan selamat ulang tahun. Acara mengundang teman-teman kecilnya yang dijadwalkan hari minggu kemarin dibatalkan, diundur seminggu.

Foto nasi tumpeng di atas kami buat ketika anindya merayakan sepasaran. Sepasaran adalah 5 hari, jumlah hari dalam perhitungan jawa dalam seminggu. Nama-nama hari tersebut adalah legi, pahing, pon, wage, dan kliwon. Setiap daerah di jawa memiliki tradisi jadwal pasar yang harinya memakai nama yang 5 tadi. Dalam satu wilayah akan terbagi 5 kali pasar yang berpindah menurut jadwal yang sudah disepakati tanpa ditulis ulang. Penamaan hari yang langsung berhubungan dengan pasar dalam hal ini perdagangan menandakan bahwa masyarakat jawa khususnya memiliki mental wirausaha.

Resep dan cara membuat nasi tumpeng di atas, aku dapatkan selain survey di google juga nasehat teman yang sering membuat tumpeng. Yang tak kalah pentingnya adalah eksperimen!. Beberapa kali mencoba pada awalnya selalu gagal, misalnya nasinya langsung melorot ketika cetakan kerucutnya di copot. Belakangan ketahuan kalau campuran beras ketannya terlampau sedikit. Atau ketika memasak terlalu sedikit air sehingga nasinya nglethis alias keras masih terasa berasnya. Sampai akhirnya terjadilah foto di atas. Nah.. kata orang bijak pengalaman adalah guru yang paling baik. Maka selamat mencoba dan mencoba suatu saat pasti akan bisa dan ahli, di bidang apapun!.

Sonntag, 8. März 2015

Schnitzel

Selama hidup di jerman saya sudah sering makan yang namanya Schnitzel (ditulis dengan huruf besar karena kata benda dalam bahasa jerman selalu diawali dengan huruf kapital). Namun kali ini untuk pertama kalinya dengan semangat 45 mencoba memasaknya sendiri!.

Bahan yang dibutuhkan kebetulan sudah tersedia di kulkas, tapi perlu disebutkan juga:
-yang pertama dan utama, irisan tipis atau bahasa jawanya dendeng daging ayam kalkun, yang bisa dibeli di supermarket dengan harga yang relatif sama dengan di tanah air, atau malah lebih murah??
-berikutnya beberapa telur, terigu dan parutan roti kering dari gandum.
-untuk bumbunya sangat sederhana, cuma garam dan merica!


Alat yang dipakai wajan datar, lebih baik yang teflon biar nanti nggak lengket di sana-sini.
Karena wajannya teflon, tidak boleh pakai sothil dari bahan logam supaya tidak menggores wajan ketika menggoreng. Minyak yang diperlukan hanya sedikit, tidak perlu irisan daging sampai berenang, istilahnya cuma numpang basah saja!

Sekarang mulai berkarya:
Daging yang sudah tipis diiris tersebut dicuci dulu dan dipukul-pukul dengan alat semacam palu yang bergerigi (tentu khusus untuk daging), kalau nggak ada pakai alat seadanya yang penting daging jadi semakin tipis dan pori-porinya terbuka untuk bumbu. Setelah itu daging dimasukkan ke dalam tepung terigu, dan diangkat dimasukkan ke dalam telur yang telah dibumbui merica dan garam.
Sementara itu wajan dengan minyak sedikit dipanasi, tak perlu panas-panas, karena daging ayam kalkun cepat matang walaupun dengan suhu rendah.
Dari kubangan telur daging ditiriskan, biar tak menetes kemana-mana, kemudian masukkan ke dalam parutan roti kering, sampai permukaan daging tertutup semua oleh parutan roti tadi. Simpelnya cairan telur tadi mengikat butiran-butiran lembut roti kering.

Sekarang saatnya memasukkan ke dalam wajan, perlu dibolak-balik agar matangnya rata, tak gosong pula, karena minyak yang sedikit kemungkinan untuk penggorengan berikutnya perlu ditambah minyak goreng lagi, yang penting daging tak perlu berenang, cukup keceh saja!
Setelah Schnitzel tampak menguning tandanya sudah matang lalu diangkat ditaruh di atas kertas untuk menghisap minyak, kemudian siap untuk dihidangkan.


Biasanya Schnitzel dimakan sebagai lauknya salat kentang tapi untuk lidah jawa, nasi tak kalah juaranya. Schnitzel tadi sebelum diudap dicucuri dengan air jeruk nipis supaya lebih nikmat.. terserah selera orang juga sih!

Foto-foto di atas adalah hasil karya Schnitzel perdana saya seumur-umur!
Yak Sip!